Maafkan aku menduakan cintamu
Berat rasa hatiku tinggalkan dirinya
Begitulah penggalan lagu Demi Waktu yang terdengar diantara kerasnya suara mesin Restu, bis antar kota Surabaya Malang. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul 21.15, Bagus masih tetap lantang menyanyi dengan diiringi alat musik sederhana, yaitu lempengan tutup botol yang dipaku pada sebuah kayu sebagai pegangan.
Lain Bagus lain Putut. Malam itu dia tidak bernyanyi, hanya duduk sambil mengantuk menahan goncangan bis yang melaju cepat. Bekas botol susu plastik yang diisi dengan beras sebagai pengiring nyanyiannya disisipkan diantara kedua kursi penumpang didepannya.
Malam itu, kedua anak pengamen jalanan yang sebelumnya tidak pernah bertemu berada dalam satu bis yang sama. Mungkin nasib yang sama yang mempertemukan mereka.Ya, nasib sebagai pengamen jalanan yang beroperasi di bis antar kota.
Tapi nasib juga tidak membuat mereka selalu sama. Bagus mengaku baru saja memulai pekerjaannya. Dia baru mengamen di satu bis, dan hanya mendapatkan sembilan ribu rupiah. Sementara Putut, sudah mendapatkan kurang lebih 21 ribu. “Tapi aku mulai jam satu siang tadi”, ceritanya.
Mengamen di bis antar kota bukan tanpa alasan bagi keduanya. Dalam hal ini Bagus, yang pernah sekolah sampai dengan kelas 4 SD cukup paham dengan situasi yang dihadapinya. “Terlalu banyak orang (pengamen) di terminal Bungurasih”. Hal ini yang membuat dia harus mengamen di bis yang sudah melaju keluar terminal.
Selain itu, perasaan takut bila bertemu Bapaknya yang sopir mikrolet jurusan TV saat mengamen memaksa Bagus untuk mengais rejeki jauh dari rumahnya di seputaran Terminal Joyoboyo Surabaya. “Bapak tidak tahu kalau saya ngamen, seandainya dia tahu, saya pasti dimarahin dan tidak boleh ngamen lagi”, ujarnya.
Untuk alasan yang pertama, Putut setuju. Terlalu banyak pengamen dewasa yang sering semena-mena terhadap orang baru apalagi anak kecil. Namun dia mengaku ibunya mengetahui dan tidak melarang untuk mengamen. “Saya mengamen juga untuk membantu ibu yang harus menghidupi saya dan seorang kakak perempuan”, dia menegaskan.
Jurusan Surabaya Malang merupakan pilihan yang tepat untuk saat ini. Kemacetan di Jalan Raya Porong sebagai dampak melubernya lumpur Lapindo membuat mereka dengan leluasa naik turun bis lebih banyak. Dan itu berarti kemungkinan mendapatkan penghasilan juga lebih besar.
Sayang pertemuan keduanya tidak berlangsung lama. Bagus memutuskan untuk turun di Apollo untuk melanjutkan peruntungannya di bis dari Malang ke Surabaya. Sedang Putut memutuskan untuk ikut bis sampai terminal Arjosari Malang. Harapannya akan lebih mudah memilih bis yang akan ditumpanginya untuk mengamen.
Tetapi perkiraan Putut salah. Bis terakhir yang akan berangkat ke Surabaya telah siap, karena waktu sudah menunjukkan pukul 23 malam. Walaupun sudah minta ijin ke kondektur, dia tidak diijinkan ikut. Memang tidak semua bis yang moleh diikuti oleh pengamen. Hanya bis kelas ekonomilah tempat mereka, pengamen anak jalanan mengais rejeki.
Dan akhirnya Putut harus tidur di terminal menunggu bis pertama berangkat ke Surabaya esok paginya.