Berawal dari kegerahan terhadap televisi, sebuah benda yang dengan sengaja, sadar, dan tanpa paksaan dibeli beberapa tahun yang lalu, saya mendapatkan sebuah angka yang cukup menakjubkan dan barangkali belum banyak orang menyadarinya.
Walaupun berukuran hanya 14″ tetapi pengaruhnya sangat besar terhadap kehidupan khususnya hari ke hari saya. Pengaruh yang paling terasa adalah banyaknya waktu yang terserap hanya untuk menikmati apa yang ditampilkan olehnya hingga berjam-jam lamanya. Inilah awal dari kegerahan saya.
Bagaimana tidak, jauh sebelum keberadaan benda itu di ruangan, sepulang kerja saya dapat menghabiskan beberapa halaman buku sebelum tidur melepas lelah. Sekarang, jangankan waktu untuk membaca, waktu tidurpun bisa tersita sampai beberapa jam hanya karena menikmati beragam siaran yang ditawarkan stasiun TV kita. Untungnya saya hanya mampu menikmati siaran TV lokal saja.
Well, sebenarnya ini hanya masalah cara pandang kita terhadap sebuah benda yang bernama TV, pastinya tiap orang bakal mempunyai pendapat dan pengalaman yang berbeda. Tapi yang jelas dan sepertinya sudah bisa dipahami umum, bahwa tayangan-tayangan lewat benda tersebut mampu memberikan efek yang besar bagi pemirsanya.
Maka pada akhirnya munculah anggapan bahwa media televisi merupakan media paling cocok untuk menyebarluaskan informasi yang isinya sesuai dengan siapa yang berkepentingan dengan informasi tersebut. Bisa berita kenegaraan, iklan, bahkan gossip. Ini juga yang mendorong siaran televisi dapat berubah menjadi sebuah industri yang cukup pesat perkembangannya.
Semua stasiun TV berlomba-lomba menyajikan acara semenarik mungkin untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya pemirsa yang tidak sadar dengan sisipan-sisipan info ‘berkepentingan’ (iklan) yang bakal dinikmatinya.
Maka kegerahan saya berbuah sebuah pertanyaan iseng namun jawabannya cukup mengejutkan. Sayapun melakukan sebuah penelitian mikro sederhana dengan melakukan perbandingan antara durasi antara acara yang disajikan oleh sebuah stasiun TV lokal dan iklan yang disisipkan. Acara yang saya pilih adalah sebuah tayangan film yang disiarkan pada prime time (pukul 19.00).
Dari total 55 menit 35 detik tayangan yang menjadi object pengukuran, terdapat 33 menit 34 detik tayangan film dan sisanya iklan yaitu 22 menit 01 detik. Sehingga jika dirata-rata akan menghasilkan disetiap 1,5 menit tayangan, akan diikuti oleh 1 menit iklan. Yang pada praktek umumnya, tayangan dibuat berdurasi 5-6 menit dan iklan berkisar 4-5 menit.
Betapa kagetnya saya menyadari bahwa selama ini hampir setengah dari waktu saya untuk menonton adalah menikmati iklan yang notabene bakal menjerat orang masuk kedunia konsumerisme. Dan saya pikir adalah akan lebih bijaksana bila menggunakan waktu tersebut untuk kegiatan yang lain.
Well, percaya nggak percaya tergantung bagaimana Anda menyikapinya. Demikian juga apa yang saya ungkapkan diatas. Setidaknya masih ada sisi positif dari keberadaan siaran televisi yang bisa memberikan nilai tambah bagi penontonnya. Tinggal bagaimana kita memandangnya.
NB: penghitungan dilakukan dari fasilitas stopwatch HP pada siaran film pukul 19:00 di statiun Trans7 dengan hasil berturut-turut durasi film dan iklan adalah (I) 00:04:47.81 (F) 00:06:53.79 (I) 00:04:20.52 (F) 00:04:35.20 (I) 00:04:26.19 (F) 00:08:12.60 (I) 00:04:05.23 (F) 00:04:37.26 (I) 00:04:21.03 (F) 00:09:01.51
wakaka
rajin amat ngitungin iklan
ga da kerjaan ya mas? hahaha
)
lagian klo g setengahny iklan sinetronnya g ada yang bayar, artisnya jd pada miris dunks
wah…salut dah ama mas wel…rajin sekali ya ngitungin….enak bgt jd artis ya…sinetron munculnya dengan durasi sedikit2…eh per episode dibayar mahal…mau dunks…hahahaha…^_^
hehehe…
untungnya kos di jakarta sini ga ada tifi lho om,
malah sekarang uda lupa nama² setasiun tifi indonesia tu apa aja, hehehe…
kata dosenku, begitu-bgituu, iklan itu menarik lhoo maas.. penuh daya kreatifitas tinggi untuk membuatnya!
*rajin amat sih ngitungin iklaan, ya alooh, toloong*