Feeds:
Posts
Comments

Sampai saat inipun saya belum tahu berapa usianya, tapi diantara semua yang hadir memanggilnya dengan Mas Roy. Mungkin karena posturnya yang tidak terlalu gemuk dengan kepala berambut tipis nyaris plontos, itu saya ketahui setelah beliau melepas topinya. Walau begitu saya yakin seorang Roy Genggam sudah berumur, terlihat dari beberapa helai rambutnya yang sudah tidak hitam lagi.

Sebagai seorang fotografer yang sudah banyak menghasilkan karya dalam waktu yang tidak singkat, Mas Roy banyak memberikan tips dengan bercerita tentang apa yang selama ini telah dilakukannya. Beberapa diantaranya coba saya rangkum untuk keperluan pribadi (karena diambil dari sudut pandang saya saja).

  • Selalu mengingat Allah sebelum mulai bekerja. Ini dicontohkannya dengan mengajak semua peserta workshop Secret to Comercial Photography untuk berdoa sebelum menyampaikan materinya. Well, seorang fotografer dengan nama besar di Indonesia masih merasa kecil sehingga perlu untuk selalu mendapat perlindungan dari Sang Penciptanya. Menurut saya ini poin yang sangat penting as we are moslem dibandingkan semua teknik fotografi yang bisa dipelajari dan dipraktekkan dengan mudah, sementara saya masih sering mengabaikannya L.
  • Seorang fotografer harus mempunyai dan memegang teguh prinsip. Mas Roy menyampaikan tidak akan motret Alcohol, rokok, dan nude. Sebuah prinsip yang menurut saya sangat bagus sekali mengingat dunia fotografi mempunyai batasan yang sangat rumit tentang hitam putih. Tentang ini saya masih sering memikirkannya dan semoga bisa menjadi sebuah tulisan dari renungan saat saya mulai mengenal dunia fotografi sekarang ini.
  • Tidak takut untuk menetapkan target pribadi. Saya rasa dengan adanya target orang akan berusaha dengan maksimal untuk mencapainya. Suatu saat Mas Roy menjadi seorang fotografer disebuah majalah, dia menetapkan target 2 tahun harus keluar. Dan pada saat itu datang, sebuah majalah yang baru berdiri yang menjadi tujuannya. Sudah barang tentu dia harus mulai lagi dengan kerja keras.
  • Membangun network, karena suatu saat kita akan butuh pertolongan orang lain. Dan bagaimana orang akan menolong kita kalau kita tidak mengenalnya.
  • Selalu belajar, ini dilakukan Mas Roy dengan membaca banyak buku fotografi dan mengikuti trend saat ini, misalnya dengan nonton MTV.
  • Asah keterampilan, buat project2 pribadi. Hal ini akan membiasakan pikiran terasah, demikian katanya yang saat ini dia sedang memotret segala hal yang ada di halaman belakangnya.

Sebenarnya jika disimak baik-baik, poin-poin diatas berlaku bagi semua hal, tidak hanya didunia fotografi asalkan kita bisa mengambil inti dari masing-masing dan mencoba mengimplementasikannya kedalam kegiatan kita yang lain.

Well, saya yakin masih lebih banyak yang bisa digali dari Roy Genggam, seorang praktisi fotografi Indonesia.

Berawal dari kegerahan terhadap televisi, sebuah benda yang dengan sengaja, sadar, dan tanpa paksaan dibeli beberapa tahun yang lalu, saya mendapatkan sebuah angka yang cukup menakjubkan dan barangkali belum banyak orang menyadarinya.

Walaupun berukuran hanya 14″ tetapi pengaruhnya sangat besar terhadap kehidupan khususnya hari ke hari saya. Pengaruh yang paling terasa adalah banyaknya waktu yang terserap hanya untuk menikmati apa yang ditampilkan olehnya hingga berjam-jam lamanya. Inilah awal dari kegerahan saya.

Bagaimana tidak, jauh sebelum keberadaan benda itu di ruangan, sepulang kerja saya dapat menghabiskan beberapa halaman buku sebelum tidur melepas lelah. Sekarang, jangankan waktu untuk membaca, waktu tidurpun bisa tersita sampai beberapa jam hanya karena menikmati beragam siaran yang ditawarkan stasiun TV kita. Untungnya saya hanya mampu menikmati siaran TV lokal saja.

Well, sebenarnya ini hanya masalah cara pandang kita terhadap sebuah benda yang bernama TV, pastinya tiap orang bakal mempunyai pendapat dan pengalaman yang berbeda. Tapi yang jelas dan sepertinya sudah bisa dipahami umum, bahwa tayangan-tayangan lewat benda tersebut mampu memberikan efek yang besar bagi pemirsanya.

Maka pada akhirnya munculah anggapan bahwa media televisi merupakan media paling cocok untuk menyebarluaskan informasi yang isinya sesuai dengan siapa yang berkepentingan dengan informasi tersebut. Bisa berita kenegaraan, iklan, bahkan gossip. Ini juga yang mendorong siaran televisi dapat berubah menjadi sebuah industri yang cukup pesat perkembangannya.

Semua stasiun TV berlomba-lomba menyajikan acara semenarik mungkin untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya pemirsa yang tidak sadar dengan sisipan-sisipan info ‘berkepentingan’ (iklan) yang bakal dinikmatinya.

Maka kegerahan saya berbuah sebuah pertanyaan iseng namun jawabannya cukup mengejutkan. Sayapun melakukan sebuah penelitian mikro sederhana dengan melakukan perbandingan antara durasi antara acara yang disajikan oleh sebuah stasiun TV lokal dan iklan yang disisipkan. Acara yang saya pilih adalah sebuah tayangan film yang disiarkan pada prime time (pukul 19.00).

Dari total 55 menit 35 detik tayangan yang menjadi object pengukuran, terdapat 33 menit 34 detik tayangan film dan sisanya iklan yaitu 22 menit 01 detik. Sehingga jika dirata-rata akan menghasilkan disetiap 1,5 menit tayangan, akan diikuti oleh 1 menit iklan. Yang pada praktek umumnya, tayangan dibuat berdurasi 5-6 menit dan iklan berkisar 4-5 menit.

Betapa kagetnya saya menyadari bahwa selama ini hampir setengah dari waktu saya untuk menonton adalah menikmati iklan yang notabene bakal menjerat orang masuk kedunia konsumerisme. Dan saya pikir adalah akan lebih bijaksana bila menggunakan waktu tersebut untuk kegiatan yang lain.

Well, percaya nggak percaya tergantung bagaimana Anda menyikapinya. Demikian juga apa yang saya ungkapkan diatas. Setidaknya masih ada sisi positif dari keberadaan siaran televisi yang bisa memberikan nilai tambah bagi penontonnya. Tinggal bagaimana kita memandangnya.

 

NB: penghitungan dilakukan dari fasilitas stopwatch HP pada siaran film pukul 19:00 di statiun Trans7 dengan hasil berturut-turut durasi film dan iklan adalah (I) 00:04:47.81 (F) 00:06:53.79 (I) 00:04:20.52 (F) 00:04:35.20 (I) 00:04:26.19 (F) 00:08:12.60 (I) 00:04:05.23 (F) 00:04:37.26 (I) 00:04:21.03 (F) 00:09:01.51

Pemuda berkaos merah

Bukan suatu yang aneh bila saat ini sering dijumpai perbedaan dalam melaksanakan ibadah, tetapi yang saya temui kali ini terasa aneh dan membuat saya bersedih. Dan menjadi lebih bersedih lagi saat mengetahui bahwa saya tidak mampu untuk memberikan saran karena memang tidak mempunyai bekal apapun tentang hal tersebut.

Pemuda berkaos merah menggelar alas shalat melintang untuk berbagi dengan saya disebelah kirinya. Saat itu kami sama-sama masbuk karena rakaat pertama sudah sampai pada sujud terakhir. Rakaat berikutnya hingga ke empat berjalan dengan lancer hingga saat imam mengucapkan salam, bukannya berdiri untuk menambahkan rakaat susulan seperti masbuk lain di shaf kami tetapi dia turut mengucapkan salam.

Ternyata Allah tidak hanya memberikan kesempatan kepada saya untuk hanya mengetahui hal tersebut. Kejadian selanjutnya lebih membuat hati saya bingung. Pemuda dengan gelang hitam itu berdiri dan memulai shalat saat saya baru saja akan menggenapi rakaat.

Sunnah rawatibkah ? Ternyata bukan, saya betul-betul salah menduganya. Selepas sujud kedua di rakaat pertama, dia melakukan tahiyat akhir dan menyelesaikannya dengan salam. Wow, belum pernah saya mendapatkan pengetahuan tentang hal ini.

Sepanjang yang saya ketahui, untuk menambah rakaat yang ketinggal an dilakukan dengan melaksanakannya langsung selepas imam melakukan salam. Apakah ada aturan lain yang belum saya ketahui ? Semoga beberapa waktu kedepan saya bisa mendapatkan jawaban.

Tetapi saya tahu masalah tata cara ibadah banyak mengundang perdebatan panjang yang hingga saat ini tidak sedikit ulama berbeda pandangan, apalagi orang awam seperti saya ini (poor me). Semoga saya terhindar dari ibadah yang tidak benarkan, sengaja maupun tidak. Wallahu a’lam bishshawab.

« Newer Posts - Older Posts »